Rabu, 10 November 2010

Tasawuf


TASAWUF

A.           ASAL KATA TASAWUF

Sebelum kita membahas tasawuf, kelahiran dan sejarahnya, kita akan bahas asal-usul tasawuf, diambil dari kata apa? bagaimana cara pengambilannya? Dan perbedaan pendapat para peneliti di dalamnya, termasuk orang-orang sufi sendiri.Asy Syibli pernah ditanya,”Kenapa orang-orang sufi dinamakan sufi?” Asy Syibli menjawab bahwa nama yang diberikan kepada mereka diperdebatkan asal-usul dan sumber penghambilannya. Orang-orang sufi sendiri berbeda pendapat tentang asal-usul kata sufi hingga sekarang.

At-Thusi Abu Nashr As-Siraj menukil dibukunya yang merupakan referensi sufi terklasik dari seorang sufi yang berkata bahwa pada awalnya kata sufi adalah shawafi karena pengucapannya dirasa sulit, maka dikatakan sufi, Hal yang sama dinukil Ath-Thusi dari Abu Al Hasan Al Kanad yang berkata bahwa Kata sufi diambil dari kata ash-shafa(kejernihan). Al kalabadzi Abu bakr Muhammad, orang sufi terkenal, menukil banyak sekali pendapat dari sejumlah orang-orang sufi tentang asal-usul sufi, diantaranya :
1.      Dikatakan sufi, karena kebeningan batin mereka dan kebersihan jejak mereka. Kelompok lain mengatakan orang-orang sufi dikatakan sebagai sufi, karena mereka berada di shaf(barisan)pertama di depan Allah SWT.
2.      Dinamakan sufi karena sifat-sifat mereka mirip dengan penghuni shuffah pada zaman Nabi Muhammad.
3.      Dinamakan sufi,karena mereka mengenakan ash-shuf (wol).
4.      Kata sufi dinisbatkan kepada shuffah dan ash-shuf menjelaskan tentang kondisi lahiriah orang-orang sufi, karena mereka (orang-orang sufi) meninggalkan dunia. Untuk itu mereka keluar dari tempat tinggal mereka, meninggalkan teman-teman mereka, berkelana ke penjuru dunia, melaparkan perut dan menelanjangi badan. Mereka tidak mengambil dunia kecuali apa yang tidak boleh ditinggalkan,yaitu menutup aurat dan menghentikan kelaparan.Karena mereka pergi dari tempat tinggal mereka,maka mereka dinamakan orang asing. Karena mereka banyak berjalan di padang-padang pasir dan berlindung di goa goa saat darurat,mereka dinamakan syakfatiyah oleh sebagian penduduk, karena syakfat dalam bahasa mereka berarti goa.
5.      Orang-orang Syam menamakan orang-orang sufi dengan nama Juiyah, karena mereka makan sebatas yang menegakan tulang punggung untuk kondisi darurat

Imam Abu Al faraj Abdurrahman bin Al Jauzi berkata, ”Salah satu kelompok yang berpendapat bahwa kata tasawuf diambil dari kata shuffah, mereka berpendapat seperti itu, karena melihat penghuni shuffah mempunyai sifat shuffah seperti mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT dan terus menerus dalam keadaan miskin. Mereka datang kepada Rasullullah tanpa mempunyai harta dan keluarga, Untuk itu beliau membangun shuffah di masjid beliau dan karena itu mereka dinamakan penghuni shuffah. Mereka menetap di masjid karena terpaksa dan makan dari harta zakat karena darurat, ketika Allah Ta’ala memberi kemenangan-kemenangan kepada kaum muslimin, mereka tidak lagi merasa perlu bertahan pada kondisi tersebut. Untuk itu mereka keluar dari masjid. Penisbatan sufi kepada shuffah adalah tidak benar,karena jika seperti itu maka dikatakan sebagai shafi .

Ada lagi yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata shufanah yaitu sayuran andewi. Orang-orang sufi dinisbatkan kepadanya, karena mereka melintasi tanaman-tanaman padang pasir, ini juga tidak benar, karena jika mereka dinisbatkan kepadanya maka dikatakan sebagai shufani. Masih banyak lagi orang-orang dulu dan belakangan yang mengemukakan pendapatnya tentang masalah ini. Diantara orang dulu ialah Bairuni Abu Ar Raihan yang menyatakan  bahwa tasawuf diambil dari kata sufiyah dalam bahasa Yunani, yang berarti hikmah (kebijaksanaan), perkataan Bairuni diringkas Shadiq Nasy’at dinukil dari buku Dzikru maa lil Hindi min Maqulatin Maqbulah aw Mardzulah, Teksnya adalah sebagai berikut:
“Orang-orang yunani tempo dulu, maksudnya orang-orang bijak seperti Solan Al Atheni, meyakini sebelum filsafat diluruskan orang-orang hindu bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah sesuatu yang satu. Mereka berkata bahwa manusia tidak mempunyai keistimewaan atas kedekatan dengan causa prima (penyebab tertinggi) dalam kedudukan. Sebagian dari mereka meyakini bahwa wujud hakiki ialah causa prima tersebut, karena dia tak membutuhkan pihak lain dengan dzatnya, sedang selain dia di alam semesta membutuhkan pihak lain. Jadi eksistensi selain causa prima adalah khayal,sedang yang benar ialah causa prima saja.

Shadiq menambahkan setelah rincian tersebut,”itulah pendapat orang-orang sufi, Maksudnya orang-orang bijak, karena kata sufi dalam bahas Yunani berarti hikmah (kebijaksanaan), Karena itu ahli filsafat dikatakan ”Pilasuba” maksudnya para pencinta hikmah, Pada masa Islam,ada sejumlah orang yang berpendapat seperti pendapat mereka (orang-orang bijak Yunani), Sebagian orang tidak mengetahui sebutan untuk orang-orang seperti orang-orang Yunani tersebut, Karena itu,ia menisbatkan kepada sifatnya dan bahwa orang-orang yang bersifat seperti itulah yang mirip denga sifat orang Yunani pada zaman Nabi Saw. Setelah itu,terjadi perubahan kemudian diambil dari kata shuff (wol) kambing hutan. Orang-orang Yunani tersebut juga berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada pada hakikatnya adalah satu dan causa prima terlihat didalamnya dalam banyak bentuk dan kekuatannya berada di bagian-bagian segala sesuatu yang ada dengan berbagai kondisi yang menghendaki perubahan bersama penyatuan dzat. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa orang yang pergi secara total kepada causa prima sembari meniru dengannya sebisa mungkin itu bisa menyatu dengannya jika ia meninggalkan semua sarana dan mengosongkan diri dari semua ikatan. Ini juga pendapat orang-orang sufi karena topiknya sama.

Hal yang sama dikatakan orientalis Jerman Fone Hamer, itu karenanya adanya kemiripan suara kata sufi dengan kata bahasa Yunani shufiya. Begitu juga dengan Kemiripan kata tasawuf dengan theosofi. Inilah kontroversi asal-usul yang terjadi dikata tasawuf, oleh karena itu orang sufi tempo dulu Ali Al-Hajuwiri terpaksa berkata,”sesungguhnya pengambilan asal-usul nama ini (tasawuf) dimaknai apapun tidak benar menurut bahasa, karena nama tersebut lebih agung dari kata tempat ia berasal . Hal yang sama dikatakan Al-Qusyairi di Risalahnya , ”Tidak ada qiyas dan asal-usul kata dalam bahasa Arab yang memberikan kesaksian tentang kata tasawuf.

B.            PERMULAAN KEMUNCULAN TASAWUF

Para ulama berbeda pendapat tentang awal kemunculan kata tasawuf, Ibnu Taimiyah dan sebelum itu Ibnu Al Jauzi dan Ibu Khaldun menyebutkan bahwa kata sufi tidak dikenal di tiga abad hijriyah, namun pembicaran tentang tasawuf dikenal setelah itu. As Siraj Ath Thusi berkata di bab khusus yang ia buat untuk mengkounter pendapat yang menyatakan,”Kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi pada zaman dulu dan kat tersebut adalah kata baru,”Kata As Siraj, ”Jika penanya bertanya dengan berkata bahwa kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi dikalangan sahabat-sahabat Nabi SAW atau generasi sesudah mereka, kami hanya mengenal istilah orang-orang ahli ibadah, orang-orang zuhud, para pengembara, para orang miskin, Selain itu, tidak pernah dikatakan kepada seorang sahabat bahwa ia orang sufi.

Hal yang sama dikatakan As-Sahruradi. ”kata tasawuf tidak dikenal pada zaman Rasullullah, ada lagi yang mengatakan bahwa kata tasawuf (sufi) tidak dikenal hingga tahun 200 Hijriyah. Abdurrahman Al Jami menegaskan,”Abu Hasyim Al Kufi adalah orang yang pertama kali dipanggil denga nama sufi dan sebelumnya tidak ada seorang pun yang diberi nama dengan nama tersebut, Khaniqah yang pertama kali ialah khaniqah di Ramlah, Syam.

Adapun Al Hajuwiri,ia menyebutkan kata tasawuf sudah ada pada zaman Rasullullah dan denga kata yang sama Al Hajuwiri berhujjah dengan hadits palsu yang diatasnamakan kepada Rasullullah, katanya Beliau bersabda,”Barangsiapa mendengar suara orang-orang sufi, namun tidak mengamankan doa mereka, ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang lalai. Padahal Al Hajuwiri sendiri menulis di akhir bab yang sama ketika menjelaskan perkataan Abui Al Hasan Al Busynaji.”Tasawuf pada hari ini adalah nama tanpa hakekat dan sebelum itu adalah hakekat tanpa nama ,Maksudnya, nama tasawuf tidak ada pada zaman sahabat dan generasi salaf sedang maknanya ada pada setiap orang dari mereka,sedang sekarang namanya ada, namun maknanya tidak ada,


Adapun para orientalis yang menulis tasawuf seperti Nichelson, ia berpendapat bahwa kata tasawuf pertama kali diberikan kepada Abu Hasyim Al Kufi (meninggal pada tahun 150 H). Adapun bentuk jamak kata sufi , yaitu shufiyah(orang-orang sufi) yang muncul pada tahun 189 H(814M) di Iskandariyah, maka itu menunjukkan dekatnya periode ketika itu dengan salah satu aliran tasawuf islam, yang nyaris merupakan aliran Syiah dan muncul di Kufah. Abdak adalah imam terakhir tasawuf dan termasuk orang yang berpendapat imamah(kepemimpinan) itu bisa dimiliki dengan pewarisan dan penunjukan. Abdak tidak makan daging dan meninggal dunia di Baghdad kira-kira pada tahun 210 H, jadi penggunaan kat sufi terbatas di Kufah.

Tapi perdebatan asal-usul kata itu tak terlalu penting. Ada penolakan sebagian orang atas tasawuf karena menganggap kata sufi tidak ada dalam al-Qur'an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi'in tidak otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Artinya, kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi ulama kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran.

Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?

Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya. Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani: mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, ilmu untuk membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti. Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.

C.            SEJARAH TASAWUF

Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi'in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.

Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi\'in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Konon, menurut pengarang Kasf adh-Dhunun, orang yang pertama kali dijuluki as-shufi adalah Abu Hasyim as-Shufi (w. 150 H).

Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur\'an al-karim.Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabahKedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas. Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.


D.           TASAWUF DAN TUDUHAN-TUDUHAN MIRING

Demi objektifitas, menilai apakah tasawuf melenceng dari ajaran Islam apa tidak, kita harus melewati beberapa kriteria di bawah ini. Dengan kriteria ini secara otomatis kita bisa mengukur hakikat tasawuf.
Pertama sekali, penilaian harus melampaui tataran kulit, dan langsung masuk pada substansi materi dan tujuannya.
Lantas apa substansi materi tasawuf? Seperti dijelaskan di atas tujuan tasawuf adalah dalam rangka membersihkan hati, mengamalkan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang jelek. Seorang sufi dituntut selalu ikhlas, ridha, tawakal, dan zuhud - tanpa sama sekali mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak penting.

Kedua, Menilai secara objektif, jauh dari sifat tendensius dan menggenalisir masalah.
Sikap ini sangat penting. Karena pembacaan terhadap sebuah kasus yang sudah didahului oleh kesimpulan paten akan menghalangi objektifitas, dan memburamkan kebenaran sejati.

Ketiga, memahami istilah atau terminologi yang biasa digunakan para sufi, sehingga kita tidak terjebak kepada ketergesa-gesaan dalam memvonis sebuah masalah.
Misalnya dalam dunia sufi dikenal istilah zuhud. Kemudian orang sering salah mengartikan bahwa zuhud adalah benci segala hal duniawi. Zuhud identik dengan malas kerja, dst. Padahal kalau kita teliti dengan sedikit kesabaran tentang apa itu arti zuhud yang dimaksud para sufi, maka kita akan menemukan bahwa zuhud yang dimaksud tidak seperti persepsi di atas. Abu Thalib al-Maki, seorang tokoh sufi, misalnya, punya pandangan bahwa bekerja dan memiliki harta sama sekali tidak mengurangi arti zuhud dan tawakal.

Keempat, dalam vonis hukum, kita perlu membedakan antara hukum sufi yang mengucapkan kata-kata dalam keadan ecstasy dan dalam keadaan sadar.
Konsep ini penting sekali, supaya kita tidak terjebak pada sikap ekstrim seperti memvonis kafir, musyrik, fasik, dll.

Kenyataan di atas sama sekali tidak berarti mau mengatakan bahwa sejarah sufi, putih bersih. Ada masa-masa dimana sufi atau oknum kaum sufi melenceng dari hakikat ajaran Islam, terutama setelah berkembangnya tasawuf falsafi.
Beberapa penyimpangan kaum sufi:
1.        Menyepelekan kehidupan duniawi
2.        Terjebak pada pola pandang jabariah
3.        Mengaku-ngaku bahwa Allah Swt telah membebaskannya dari hukum taklif, seperti shalat, puasa, dll. Dan semua hal bagi dirinya halal.

E.            TOKOH-TOKOH TASAWUF

Beberapa tokoh yang akan di ulas adalah dimulai pada abad I Hijriyah.

1)      Hasan Basri (Lahir. 21 H, Wafat 110 H)
Ajaran utamanya adalah tentang Kezuhudan. Zuhud menurut Hasan Al Basri adalah khauf wa arraja (takut dan penuh pengharapan).
2)      Rabiah Al Adawiyah (Wafat 185 H)
Terkenal dengan ajaran cinta.
3)      Al Muhasibi (165H - 243 H)
Memadukan filsafat dan teologi, guru dari Al Junaed, beliau adalah kakek moyang dari Imam Syazili. Beliau menulis kitab tentang praktek kehidupan spiritual (Ri'ayah li Huquq Allah)
4)      Abu Yazid Al Bistami (Lahir 261 H)
Terkenal sebagai Sufi yang mabuk, ucapannya "Bahwa telah terjadi kesatuan antara pecinta dan Yang Dicinta, dan cinta itu sendiri. Ketiganya adalah satu. Betapa sungguh besar Aku (Arab. Subhani, padahal yang umum dipakai adalah Subhanallah yang artinya Maha Suci Allah).
5)      Al Qusyairi (376 H - 465H)
Sufi Persia yang menulis kitab al Risalah dan beberapa kitab yang isinya tentang doktrin sufi.


6)      Syaikh Abdul Qadir al Jailani (470 - 561H)
Umumnya disebut Sultan al Auliya. Kitab karangannya lebih dari 15 yang populer di Indonesia diantaranya : Futuh Al Ghaib, Aurad al Jilani, al Hizb al Kabir..
Beliau terkenal sebagai pendiri tharikat Qadiriyah, melaluinya lahirlah gerakan Sufi dengan guru pembimbing spiritual. Qadiriyah adalah tharekat yang pertama ada.
7)      Al Ghazali (450 H- 505H)
Seorang filosof, teolog, ahli hukum da Sufi.Al Ghazali adalah arsitek perkembangan Islam di masa belakangan. Kitab karangan beliau banyak populer di Indonesia, diantaranya adalah : Ihya Ulum al Din (Menghidupkan kembali ilmu-ilmu Agama, Al Munqid min Al Dzalal (Penyelamat dari kesesatan), karya beliau lebih dari 70 kitab.
Dalam kitab Tahafut al Falasifah (Sanggahan terhadap pemikiran kaum filsosof), Ghazali menyangkal filosof yang mendasarkan pada pemikiran pribadi dalam rangka menjelaskan kebenaran, dan ia berusaha mengembalikan filsafat dalam koridor teologi.
Sepeninggal Al Ghazali perselisihan pandangan semenjak wafat Nabi Muhammad SAW agak berkurang, menjadi kesatuan atas dasar keberagaman.
8)      Ibnu Arabi (Lahir 560 H)
Ibnu Arabi yang mengarang tak kurang dari 500 judul buku, diantaranya Futuhat al Makiyyah, Fusus Al Hikam dan sebagainya. Ajaran Ibnu Arabi yang populer adalah wahdat al Wujud. Dan tasawuf Irfani.


Dari 8 ajaran Sufi di atas bisa kita bagi dalam beberapa masa atau periode.
I.              Masa Pembentukan :
Asketisme Islam pada abad I dan 2 H memiliki karakter:
*      Menjauhkan diri dari dunia
*      Motive utama takut disusul cinta
*      Pada abad ke 2, Rabiyah al Adawiyah membuat analisis yang merupakan cikal bakal para filosof abad 3 dan 4 H.
II.           Masa Pengembangan
Pada abad 3 dan 4, ajaran fana mulai diperbincangkan. Ajaran wahdat al Wujud. Menurut Abu Al Wafa, tasawuf abad 3 dan 4 ada dua aliran :
Pertama : Aliran Salafi, bentuk tasawufnya dipagari dengan bersumber al Quran dan al Hadits saja.
Kedua : aliran tasawuf semi falsafi, dimana pengikutnya cenderung pada ungkapan ganjil (syatahiyat) serta bertolak dari keadaan fana menuju penyatuan (hulul).
III.        Masa Konsolidasi
Abad 5 H terjadi pertentangan antara tasawuf semi falsafi dan tasawuf Suni. Dimenangkan tasawuf sunni, tasawuf falsafi tenggelam kemudian muncul lagi abad 6H. Tasawuf Al Ghazali yang berdasarkan ahlu sunnah wal jamaah demikian populernya sehingga memperngaruhi filosof islam Syiah, ikhwanu sofa dsb. Ajaran tasawuf al Ghazali ini mengutamakan pendidikan moral (tasawuf akhlaki) hal ini dapat disimak dalam kitab ihya ulumuddin.
IV.          Masa Falsafi
Abad 6, ajaran tasawufnya tercampur dengan ajaran filsafat, pembahasan term filsafat disubstitusikan pada ajaran tasawuf. Akibatnya ajaran tasawuf ini bercampur dengan filsafat Yunani, Persia, India, Nasrani walau ajaran tasawufnya tidaklah hilang. Ajaran tasawuf falsafi ini tidak bisa dianggap sebagai filsafat karena berdasarkan pada dzauq (rasa), tapi juga tidak jufa disebut tasawuf murni karena selain term yang digunakan filsafat tapi juga ajaran umumnya bercorak pantheisme.
V.            Masa Pemurnian
Keruntuhan tasawuf mulai timbul akibat legenda tentang keajaiban dihubungkan dengan tokoh-tokoh tertentu, amalan, azimat dan lain-lain. Kemudian muncul Ibnu Taimiyah yang dengan tegas menolak khurafat dan bentuk-bentuk bidah. Ibn Taimiyah berpendapat bahwa wali Allah adalah yang berlaku shalih dan konsisten dengan syariat 
                       



     Berbeda dengan pembagian secara dekade, ada istilah tasawuf irfani, yang lintas batasan periode. Tasawuf irfani berusaha menyingkap hakikat kebenaran atau makrifat dengan tidak menggunakan logika atau pemikiran tetapi melalui penyucian hati (tasfiat al qulb). Dengan hati yang suci seorang dapat berdialog dengan Tuhan secara bathiniah sehingga pengethauan makrifat disusupkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenarannya tersingkap melalui intuisi (ilham). Tokoh-tokohnya : Rabiah al Adawiyah, Dzunnun al Misri (180 H - 246 H), Junail al Baghdadi (w. 297 H), ABu Yazid al Bistami, AL Hallaj (244 H - 309 H), dan Jalaluddin Rumi. Ibnu Arabi bisa dimasukkan ke Tasawuf Irfani, selain tasawuf falsafi. Ajaran Ibn Arabi menurut pengakuannya merupakan perolehan dari Tuhan melalui intuisi, ada juga yang didapat dari Rosulullah yang didapat melalui pertemuan yang unik.

F.            KESIMPULAN

Setelah mengetahui hakikat ajaran tasawuf di atas jelaslah bahwa ajaran tasawuf, adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam. Ia bukanlah aliran sesat. Bahwa ada penyimpang oknum atau lembaga sufi itu tidak berarti tasawuf secara keseluruhan jelek dan sesat. Kita jangan sekali-kali terjebak apada generalisir masalah. Karena sejatinya, tokoh-tokoh sufi berpendapat ajaran tasawuf harus bersendikan al-Qur\'an dan Hadis. Diluar itu ditolak!
Tasawuf, seperti dinyatakan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karena misi tasawuf memperbaiki akhlak. Dan akhlak jelas sekali bagian dari Islam. Karena Nabi Muhamad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar